Tuesday, October 4, 2016

Hati-Hati dengan Pujian

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Kaum muslimin yang semoga selalu dirahmati oleh Allah
Kita dapat mengambil suatu pelajaran dari sahabat yang mulai yaitu Abu Bakar As-ShiddiqI. Dimana beliau ini adalah orang terbaik sepeninggal Nabi kita MuhammadH. Ketika beliau mendapatkan suatu pujian, yaitu pujiannya adalah di hadapan dirinya. Orang-orang menyanjung dirinya. Maka apa yang beliau katakan ketika itu.?Abu Bakar As-Shiddiq kemudian mengatakan,

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.
“Ya Allah engkau lebih mengetahui  keadaan diriku dari diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku dari pada mereka (yang memuji). Ya Allah, jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan. Ya Allah, ampunilah aku atas perkataan-perkataan mereka yaitu sanjungan-sanjungan mereka. Ya Allah, janganlah siksa aku dengan pujian mereka tujukan kepadaku”.
Maka demikanlah ketika para salaf itu dipuji mereka juga mengamalkan semisal ini. Ada diceritakan bahwasanya ada seorang salaf ketika dia dipuji (di depan dia) malah dia marah. Kemudian dia mengingkari pujian tersebut misalkan:  ‘kamu adalah orang yang sholeh’. Dia mengingkari pujian tersebut. Dia itu marah. Lalu dia berdoa, doa seperti tadi (di atas seperti apa yang diucapakan Abu Bakar As-Shiddiq).
Nah ini menunujukkan bahwasanya (menjadi pelajaran bagi kita): ‘Kita jangan suka apabila di puji orang lain’. Orang-orang yang mulia saja seperti Abu Bakar As-Shiddiq. Begitu juga yang disebutkan dari cerita berbagai ulama para salaf, mereka ketika dipuji, mereka tidak merasa senang dengan pujian tersebut karena yang namanya pujian itu bisa meruntuhkan atau bisa menghapuskan amalan seseorang.
Karena amalan seseorang itu kata Ibnu Thaimiyah,
“Bisa terhapus karena sebab yaitu karena riya dan karena ujub”
Karena riya, dia tidak merealisasikan firman Allah di dalam surat Al-Fatihah:
“iyya kana budu”
Yaitu hanya kepadamulah kami menyembah, Hanya kepadamulah kami beribadah.
Sedangkan orang yang ujub, tidak merealisasikan firman Allah
“Wa iyya kanasta’in”
Yaitu kepadamulah kami memohon pertolongan.
Karena yang pertama ini, dia beribadah kepada selain Allah . Sementara yang kedua, dia merasa bahwa dirinyalah yang berbuat, bukan atas pertolongan Allah Esehingga karena sebab ini, Ibnu Thaimiyyah katakan bahwasanya inilah yang bisa menghapuskan amalan seseorang
Riya itu bisa menghapuskan amalan seseorang sebagaimana Allah mengataka dalam hadits kudsi:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Aku tidak peduli terhadap kesyirikan, Barang siapa yang melakukan suatu amalan dimana dia mempersekutukanku dengan selainku maka aku akan meninggalkan dirinya dan juga amalannya.
Jadi amalannya itu akan di tinggalkan begitu juga pelaku tadi yang berbuat syirik yaitu riya termaksud syirik itu juga akan ditinggalkan.
Sedangkan ujub tadi adalah merasa bangga pada dii sendiri, merasa bangga terhadap amalan yang diperbuat, dia merasa itu adalah hasil usahanya bukan dari taufik Allah. Dia menyangka bahwasanya itulah yang dia lakukan. Ya ini karena ilmu yang saya peroleh, ini karena amalan yang saya laukan sendiri, bukan dari taufik Allah  Sehingga ini juga bisa meruntuhkan amalan dia.
Maka Ibnu Thaimiyyah pernah menceritakan suatu perkataan dari Sa’ad bin Jubair,  dimana dia mengatakan bahwasanya, ada seorang itu yang beramal kebaikan malah bahwa dia itu masuk neraka, ada seorang yag beramal kejelekkan malah dia itu masuk surga.
Ada seorang yang beramal kebaikan dia itu merasa ujub dengan amalan kebaikannya tadi malah setelah itu amalan kebaikannya itu jadi gugur, jadi terhapus gara-gara sebab ujub yang ada pada dirinya. Dia merasa bangga dengan amlannya tersebut. Sedangkan yang kedua ada orang yang dia itu orang yang gemar bermaksiat tapi kemudian dia masuk surga. Nah ketika itu apa yang terjadi, dia tutup amalan akhirnya dengan bertaubat kepada Allah  sehingga Allah  itu masukkan dia ke dalam surga karena nabi mengatakan,
“sesungguhnya amalan itu dilihat dari akhirnya”
Maka kita dapat mengambil pelajaran disini bahwasanya kita tidak suka dengan pujian. Kita harus intropeksi diri, barangkali kita tidak sesuai dengan apa yang di puji tadi, kita banyak beristghfar kepada Allah  kita mohon kepada Allah  semoga kita tu bisa lebih baik dari pada pujian tadi  dan moga kita dapat terlepas dari sifat ujub dan sifat riya yang dapat menghapuskan amalan kita.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan baik dan bijak..